Monday, November 8, 2010

Short Stories : Are You Happy, Ma?

 Gambar diambil dari :
http://gaga.dagdigdug.com/tag/coretan/


Topic starter : Senin, 8 November 2010 (9:44 pm)

"Ma?" Seorang bocah laki-laki berusia 6 tahun menghampiri sang ibu yang sedang memotong sayuran di dapur. Bocah itu mengambil kursi kecil yang ada di samping lemari kayu dan menggesernya hingga menempel di sisi meja tempat ibunya berada. Anak itu kemudian menaiki kursi tersebut dan bertopang pada kedua sikunya sementara tangannya menyangga mukanya.

"Hmm?" Sang ibu meneruskan memotong sayuran tanpa menoleh ke arah anaknya.

"Maa?" Nada suara anak itu semakin mendesak seakan meminta agar sang ibu memfokuskan perhatian pada dirinya. Sang ibu berhenti memotong dan mengelap tangannya pada celemek yang diikatkannya di bagian pinggang dan leher.

"Ada apa, Ray? Mama khan udah sering bilang kalau Mama sedang kerja itu jangan diganggu!" Mama menatap galak pada anak bernama Ray itu namun Ray tetap menatap ibunya tanpa kedip untuk kemudian dari mulut kecilnya meluncur pertanyaan, "Ma, apa Mama bahagia?"

Sang ibu tercekat mendapat pertanyaan tak terduga dari anaknya itu, ia hanya bisa terdiam tanpa mampu berkata-kata, namun Ray terus bertanya, "Apa Mama bahagia dengan hidup Mama? Apa Mama menyesal menikah dengan Papa?"

Sejurus kemudian sang ibu tampak gusar mendengar pertanyaan demi pertanyaan yang diucapkan anaknya, "Ray! Kamu ini bicara apa sih?! Anak kecil tau apa tentang yang namanya bahagia! Sudah sana, kamu main aja di ruang tamu! Atau nonton TV atau masuk ke kamarmu dan baca buku sana!"

"Kenapa, Ma? Kenapa Mama ngga mau jawab pertanyaan Ray?" Airmata perlahan mulai menggenang di mata Ray namun sang ibu yang telah dikuasai emosinya tidak mampu melihatnya.

"Raymond Alionso Bermuda! Jangan buat Mama mengulangi perkataan Mama! Ah, kamu ini telah merusak mood Mama untuk memasak!" Sang ibu kemudian berteriak, "Bii.. Bibii.." Yang dipanggil pun datang terpogoh-pogoh mendengar suara sang ibu, "Ya, Bu?"

"Bibi lanjutkan masaknya ya. Saya mau ke kamar, pusing!" Tanpa memandang ke arah Ray, sang ibu meninggalkan dapur. Ray pun perlahan beringsut turun dari bangku dan berjalan pelan menuju ke kamarnya sambil sesekali mengusap airmatanya.

Di dalam kamarnya Ray berbisik pelan, "Mama, yang sebenarnya ingin Ray tanyakan adalah.. apa Mama menyesal telah melahirkan Ray? Ray ingin tau jawabannya, Ma.. Karena Mama sering bertengkar dengan Papa, apa Mama menyesal menikah dengan Papa? Kalau Mama menyesal menikah dengan Papa, apa jadinya dengan Ray, Ma? Karena tanpa Papa, Ray tidak akan lahir ke dunia ini."

Ray pun kembali terisak walau sekuat tenaga ia telah berusaha menahan airmatanya agar tidak tertumpah. Segera ditariknya selimut hingga menutupi kepalanya agar tidak ada yang bisa melihatnya sedang menangis. Ray pun tertidur dalam tangisannya tanpa mendapatkan jawaban akan pertanyaan yang menggantung di benaknya.

Ahh, Little Ray.. hope you will find some comforts in your sleep and when you wake up may all your worries will only be a nightmare you don't have to live when you're awake..

As for the Ma and the Pa.. semoga kalian berhenti bertengkar agar anak kalian bisa menemukan kedamaian dalam rumah yang ditempatinya!

Topic ended : Senin, 8 November 2010 (10:36 pm)

-Indah-

No comments:

Post a Comment